Ribuan masyarakat Tionghoa di Bengkalis, Rabu (5/2) memeriahkan Cue Lak atau hari keenam Tahun Baru Imlek 2565. Masyarakat Tionghoa tumpah ruah mengikuti prosesi ritual (sembahyang) kepada Maha Dewa, yang dilanjutkan dengan arak-arakan keliling kota Bengkalis untuk melakukan penyemahan.
[caption id="attachment_347" align="alignleft" width="300"]
Masyarakat Tionghoa tumpah ruah memeriahkan Cue Lak, Turut serta dalam arak-arakan tersebut atraksi Liong (naga) dan Barongsai (singa)[/caption]
Pantauan di lapangan, sebagian besar toko-toko milik warga Tionghoa tutup. Mereka mempersiapkan diri menyambut Cue Lak dengan memasang petasan beraneka jenis. Selain di toko, petasan juga di pasang di rumah-rumah warga Tionghoa yang akan dinyalakan ketika arak-arakan melalui rumah mereka.
Sementara itu, tampak di Kelenteng Hok Ann Kiong, penuh dengan warga Tiongoa yanga akan melakukan sembahyang dan arak-arakan. Tempat pemujaan warga Tionghoa yang sudah berumur lebih dari satu setengah abad itu sudah ramai sejak dinihari dan semakin padat menjelang arak-arakan. Selain di Kelenteng, masyarakat Tionghoa lainnya juga melaksanakan prosesi sembahyang di depan rumah masing-masing dengan maksud memohon perlindungan dan keselamatan bersama kepada para Dewa.
Perayaan Cue Lak yang merupakan hari kelahiran Maha Dewa Cho Se Kong makin meriah dengan adanya arak-arakan keliling kota Bengkalis. Kegiatan arak-arakan ini dipimpin oleh waskita yang disebut Thangkie, yaitu seseorang yang kerasukan dewa dan berbicara dengan manusia di sekitarnya dengan mempergunakan bahasa isyarat. Turut serta dalam arak-arakan tersebut atraksi Liong (naga) dan Barongsai (singa).
Arak-arakan keliling kota untuk melakukan penyemahan dimulai dari Kelenteng Hok Ann Kiong menuju Jalan Sudirman. Kemudian menuju jalan-jalan protokol lainnya seperti Ahmad Yani, Hang Tuah, Jalan Pattimura, Jalan Diponegoro, sebelum akhirnya kembali ke Kelenteng Hok Ann Kiong.
Di setiap jalan yang dilewati, para Thangkie melakukan pembersihan. Termasuk di pertokoan ataupun di rumah-rumah warga. Bahkan tampak pada acara kemarin, para dewa dewi melakukan penyemahan di SD Komplek. Seiring dengan itu, dentuman petasan yang dibakar oleh para warga Tionghoa membuat suasana makin meriah. Apalagi jumlah petasan yang dibakar tidak sedikit dan dibunyikan di setiap jalanan yang dilalui arak-arakan para dewa dewi.
Seperti tahun-tahun sebelumnya acara peringatan Cue Lak tidak hanya menarik perhatian para warga Tionghoa, tetapi juga masyarakat Bengkalis pada umumnya. Mereka sanggup berpanas ria untuk menyaksikan acara setahun sekali. Begitu ramainya, beberapa ruas jalan terjadi kemacetan sementara saat dilakukan acara penyemahan. Namun demikian tetap berjalan tertib karena aparat kepolisian bersama Dishubkominfo melakukan pengawalan secara ketat.
Menurut Humas Yayasan Hok Ann Kiong, Herman Kasuma, arak-arakan keliling kota Bengkalis dilakukan untuk melakukan penyemahan, agar seluruh masyarakat tidak hanya kaum Tionghoa, terhindar dari gangguan roh jahat. “Kita bersama seluruh pengurus Kelenteng dan Panitia Perayaan Imlek Bengkalis mengharapkan semakin terjalinnya kebersamaan, kerukunan, keharmonisan hidup diantara sesama. Dengan keyakinan bahwa dari tahun ke tahun, negara dan bangsa kita akan semakin maju berkembang, damai, aman, dan tenteram,” ujar pria yang memiliki nama Tionghoa Tiam Kun ini.