Kebakaran semak belukar dan kebun karet di Pulau Bengkalis terus meluas. Berdasarkan hasil pantauan udara mengguna helikopter, Rabu (5/1) siang, terdapat belasan hot spot (titik kebakaran) yang tersebar di Kecamatan Bengkalis dan Kecamatan Bantan. Diperkirakan sudah ratusan hektar yang dilalap si jago merah.
[caption id="attachment_359" align="alignleft" width="300"]
Pantauan dari udara kebakaran di pulau Bengkalis[/caption]
Pantauan kasat mata, setidaknya ada sekitar 16 titik kebakaran yang tersebar di daerah Wonosari, Bantan, Penampi dan Kanjau. Sebagian besar api masih menyala dan sebagian lagi hanya mengepulkan asap putih karena semak belukar dan kebun karet yang terbakar sudah rata dengan tanah. Kuat dugaan kebakaran ini akibat ulah oknum yang membuka kebun dengan cara membakar mengingat titik-titik kebakaran berada tidak jauh dari kebun sawit maupun karet.
Kepala Badan Penanganan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPD-Damkar) Kabupaten Bengkalis, Much Jalal ketika dihubungi kemarin mengatakan, pihaknya telah berupaya semampunya memadamkan api, terutama untuk daerah-daerah yang masih bisa dijangkau aksesnya serta tersedianya air.
Dipaparkan Jalal, dengan keterbatasan personil yang ada serta akses, saat ini pihaknya tengah konsentrasi melakukan pemadaman di 4 titil, yakni hutan lindung di belakang Makorem di Desa Bantan Tua, di Kanjau dan Kelebuk.
“Di belakang Makorem ini pada Jumat lalu, api sebenarnya sudah berhasil kita padamkan. Tapi sejak Selasa kemarin hidup lagi, kita sudah mengerahkan tim di sana. Selain itu tim juga kita turunkan di Kanjau dan Kelebuk,” ujar Jalal.
Untuk kebakaran di Sadar Jaya, Kecamatan Bukitbatu, pihaknya memang sudah mendapat laporan adanya kebakaran di sana. Namun karena tidak adanya akses dan ketersediannya, pihaknya tidak bisa membantu menurunkan tim kesana. Saat ini kebakaran ditangani oleh Masyarkat Peduli Api (MPA) yang ada disana.
Ditambahkan Jalal, kondisi panas terik disertai angin kencang cukup menyulitkan pihaknya melakukan pemadaman. Apalagi yang namanya lahan gambut, di atasnya sudah padam, tak tahunya di dalam tanah apinya masih nyala sehingga begitu ditinggalkan beberapa hari api membesar lagi dan merebet kemana-mana.
Untuk itu ia tidak henti-hentinya mengimbau kepada masyarakat jangalah membuka lahan dengan cara membakar. Karena jika api sudah meluas seperti sekarang ini, tidak ada bisa sanggup memadamkannya. Paling hanya bisa melokalisasi api agar tidak merambat ke tempat lainnya.