Minggu, 27 September 2026 - 18:08:29 WIB - Dibaca : 28 Kali

Bedah Buku 25 Tahun Polbeng, Bupati Bengkalis : Sejarah Jadi Pijakan, Inovasi Jadi Lompatan

Editor: Nurhadi - Rep: Ibrahim - Foto: Ibrahim
Teks foto: Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Andris Wasono saat menyampaikan arahannya pada Bedah Buku 25 Tahun Polbeng.

BENGKALIS, PROKOPIM — Seperempat abad perjalanan Politeknik Negeri Bengkalis (Polbeng) bukan sekadar catatan waktu. Di balik usia 25 tahun itu, tersimpan perjalanan panjang pendidikan vokasi, pembangunan sumber daya manusia, sekaligus kontribusi nyata bagi kemajuan Kabupaten Bengkalis dan Indonesia.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Bedah Buku 25 Tahun Politeknik Negeri Bengkalis, yang digelar di Aula Mini Conference GKT 1 Politeknik Negeri Bengkalis, Minggu (27/9/2026).

Bupati Bengkalis Hj. Kasmarni melalui Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Andris Wasono, memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, bedah buku tidak semata-mata membahas sebuah karya, tetapi menjadi momentum strategis untuk membaca kembali perjalanan Polbeng sekaligus menyiapkan arah masa depannya.

“Bagi kami, kegiatan ini bukan sekadar membedah sebuah buku. Ini adalah momentum untuk membedah perjalanan, membaca keberhasilan, mengakui kekurangan, sekaligus menyiapkan lompatan ke depan,” ujarnya.

Ia menegaskan, buku 25 tahun Polbeng harus dipandang sebagai lebih dari sekadar kumpulan tulisan. Buku tersebut merupakan rekaman perjalanan, cermin pengalaman dan sumber pembelajaran untuk menentukan langkah berikutnya.

Menurut Andris 25 tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Dalam rentang tersebut, Polbeng telah tumbuh menjadi salah satu bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Bengkalis.

Karena itu, momentum seperempat abad ini harus dimanfaatkan sebagai ruang refleksi. Bukan hanya untuk mengingat apa yang telah dilakukan, tetapi juga mengevaluasi apa yang telah dipelajari, apa yang masih perlu diperbaiki, serta lompatan apa yang harus dipersiapkan.

“Jangan berhenti pada pertanyaan apa yang telah kita lakukan. Mari kita lanjutkan dengan pertanyaan yang lebih penting, apa yang sudah kita pelajari, apa yang harus kita perbaiki dan lompatan apa yang harus kita siapkan untuk 25 tahun berikutnya,” tegasnya.

Menurutnya, kemajuan sebuah perguruan tinggi tidak cukup diukur dari usia, jumlah lulusan atau capaian akademik semata. Lebih jauh, perguruan tinggi harus mampu menjawab kebutuhan zaman dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Perjalanan Polbeng, lanjutnya, juga memperlihatkan bahwa perguruan tinggi yang tumbuh di daerah mampu mengambil peran dalam panggung nasional.

Salah satu indikatornya terlihat dari kepercayaan kepada Polbeng sebagai tuan rumah Kontes Kapal Indonesia, yang diikuti 52 perguruan tinggi dari berbagai daerah di Indonesia.

Kepercayaan tersebut, kata Andris, menunjukkan bahwa Bengkalis tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pendidikan vokasi, tetapi juga mampu menjadi ruang bertemunya ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi dan talenta kemaritiman dari berbagai penjuru Indonesia.

“Ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi di daerah juga mampu menjadi bagian dari ekosistem pendidikan, teknologi dan inovasi pada level nasional,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Bengkalis berharap Polbeng terus memperkuat tiga agenda utama. Pertama, kualitas sumber daya manusia. Polbeng diharapkan tidak hanya melahirkan lulusan yang unggul secara akademik dan teknis, tetapi juga memiliki karakter, integritas, kemampuan beradaptasi serta keberanian berinovasi.

Kedua, memperkuat kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Pendidikan vokasi harus semakin dekat dengan kebutuhan lapangan kerja. Kurikulum, kompetensi dan proses pembelajaran harus terus bergerak mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.

Ketiga, memperbesar kontribusi terhadap pembangunan daerah. Polbeng diharapkan semakin hadir dalam menjawab berbagai tantangan Bengkalis, mulai dari teknologi kemaritiman, digitalisasi, energi, industri, UMKM, lingkungan hingga penguatan kualitas sumber daya manusia. Dengan demikian, kampus tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan pembangunan daerah.

Andris juga berharap buku 25 Tahun Politeknik Negeri Bengkalis tidak berakhir sebagai dokumen sejarah yang tersimpan di rak perpustakaan. Sebaliknya, buku tersebut harus terus dibaca, dikaji dan didiskusikan agar pengalaman serta gagasan yang terdokumentasi di dalamnya dapat menjadi bahan bakar lahirnya karya dan inovasi baru.

“Mari kita jadikan 25 tahun ini sebagai refleksi, bukan sekadar nostalgia. Jadikan sejarah sebagai pijakan, pengalaman sebagai pembelajaran, ilmu pengetahuan sebagai kekuatan dan inovasi sebagai jalan untuk melompat lebih jauh,” pungkasnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi penanda bahwa memasuki usia 25 tahun bukanlah garis akhir bagi Polbeng. Justru, seperempat abad perjalanan menjadi pijakan untuk membangun babak baru pendidikan vokasi yang semakin adaptif, inovatif dan relevan dengan kebutuhan daerah maupun dunia industri.

Kegiatan Bedah Buku 25 Tahun Politeknik Negeri Bengkalis turut dihadiri Pasi Pers Kodim 0303/Bengkalis Kapten Inf Ucok Doni Samosir, Bhabinkamtibmas Aipda Kamal mewakili Kapolres Bengkalis, Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia sekaligus narasumber bedah buku Johansyah Syafri, Direktur Politeknik Negeri Bengkalis Ir. Johny Custer, Kepala Bappeda Bengkalis Rinto, Ketua MUI Bengkalis H. Amrizal, Direktur Politeknik Negeri Bengkalis periode 2005–2020 Ir. Muhammad Milchan, civitas akademika Politeknik Negeri Bengkalis serta tamu undangan lainnya.


Berita Lainnya

Tulis Komentar